Langsung ke konten utama

Pelajaran dari Si Wanita Baik Itu #3

"Sayang,pimpinan memanggilku." baru saja tiba dirumah dinas mereka, lelaki yang sedang menggenggam gelas teh di tangannya membuka perbincangan.

"Lalu?" Wanitanya duduk disebelahnya, yang lalu menunduk dan membukakan kaus kakinya.

"Mulai besok, kita akan serumah dengan dua orang wanita dari kota. Bagaimana menurut kamu?" Tanya lelaki itu meminta pendapat pada wanitanya.

Wanitanya hening, tampaknya sedang berfikir. Berjalan kedapur dan memegang secangkir air mineral ditangannya.

Ia duduk kembali, meneguknya hingga setengah dan meletakkannya.

Menggenggam tangan lelakinya dan mencoba angkat bicara.

"Aku terserah kamu, tapi apa gak akan jadi masalah? Kita tinggal di lingkungan masih perdesaan. Apa gak akan jadi gosip?" jawab wanitanya sangat berhati-hati.

"Letakkan saja mereka dikamar belakang, aku gak akan ketoilet kecuali kamu temanin, dan gak akan pulang sebelum kamu pulang..." jelas pria itu mencoba menjawab kekhawatiran istrinya.

Sepekan setelah kedatangan mereka. 

"Bu, saya mau beli nasinya 10ribu ya. Teman saya lupa cetekin nasinya tadi. Jadi lauknya uda masak, eeeh nasinya belum masak..." jelas wanita itu, pada ibu penjual nasi yang letaknya tepat diseberang rumah dinas mereka.
"Maaf dek, saya izin tanya. Semoga kamu gak tersinggung. Itu yang dua perempuan itu adik suami kamu ya? Atau sepupunya?" Tanya ibu penjual nasi sangat berhati-hati.

Wanita itu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal.

"Udah izin ke kepala desa dek?" Tanyanya lagi, tanpa menunggu penjelasan dari wanita itu.

"Eee kata Pimpinan itu tugas mereka bu. Itu teman saya dari kota. Kebetulan mereka direkrut juga. Berhubung di pondok pegawai wanita penuh, kata Pimpinan beberapa waktu numpang dulu di kami. Ya, saya mau gimana bu. Saya juga numpang disitu." Jelas wanita itu perlahan namun pasti.

"Oo gitu, bukan apa-apa. Sebaiknya kamu ajak aja suami kamu pindah dek.." perintahnya masih sambil membungkus pesanan orang lain.

"Ya, karena... ibu sering perhatiin dari sini. Kalau yang gendut itu, suka nunggu disini kalau dia kebetulan pulang cepat. Kadang sambil videocall sama keluarganya di kota. Kalau yg kecil itu, suka main masuk aja. Kadang suamimu uda pulang duluan, gak lama dia masuk. Kadang dia duluan pulang, beberapa menit kemudian dia masuk. Lah, pintunya ditutup terus jadi ya ibu gak tahu mereka ngapain. Bapak tetanggamu juga sering ngomongin itu ke ibu. Makanya ini ibu sampaikan. Yaa, kalau yang gendut itu. Kadang gak tahu mereka uda dirumah..." cerocos ibu penjual nasi.

"Terimakasih ya Bu.. saya izin pamit..." ucap wanita itu berlalu. Setelah menerima pesanan, tanpa merespon apapun.

Wanita itu tiba didepan pintu, sialnya pemandangan tak indah dia lihat.

Prianya sedang mengobrol, dan bercanda lepas dengan wanita kecil yang dimaksud ibu penjual nasi.

Wanita itu langsung masuk kedapur dan melihat temannya yang satu lagi baru selesai mandi karena bedak baby nya baru di oleskan kewajahnya.

"Lama kali beli nasi aja sih, mbak?"tanya wanita yang berbadan agak berisi itu.

"Iya, tadi ibu nasi ngajak ngobrol. Aku mau tanya sama kamu, sebentar deh kita kekamar..."  ajak wanita itu.

Mereka berbisik kecil.

"Itu, dia sering ngobrol sambil ketawa-tawa gitu sama suami saya?" Tanyanya memastikan, namun dengan sangat hati-hati.

"Haduh...." ucap wanita itu pucat.

"Nanti kita bahas, kita ngobrol diluar. Kamu izin aja sama suami kamu. Bilang kita mau ke Mini Market di Kota. Jadi mungkin se-jam padahal kita ngobrol sebentar diwarung kopi sebelah." Perintahnya sambil memberi kode agar menjadi rahasia.

Mereka keluar dan membawa nasi yang sudah diletakkan kewadahnya.

"Wahh, ngobrol apa sih? Seru banget?" Wanita itu membuka pembicaraan, yang berakhir dengan keheningan tanpa respon apapun.

"Lapar kaliloh uda. Lama kali.." komentar lelakinya sedikit berteriak.

"Iya, tadi saya lupa cetek-kan nasi nya bang..maaf ya.." jawab wanita berbadan berisi disebelah wanitanya.

Wanita itu mengisi nasi kepiring seperti biasa, lalu memberikan kepada suaminya seperti biasa. Yang  malah di berikan kepada wanita kecil itu.

Wanita kecil itu masa bodoh, ntah tidak sadar. Ntah pura-pura tak perduli.

"Eh, itu bukan buat kaulah. Itu buat suaminya..." protes wanita berbadan berisi.

"Gapapa lah, sama aja itu."jawab lelaki itu cuek.

Selama makan, hanya terdengar suara mereka berdua yang tertawa, dan saling mengomentari film yang sama-sama mereka suka. Sejenis film animasi korea.

"Mau ikut gak? Kami mau ke kota. Mau cari pewangi pakaian, sama mau beli skincare ku habis." Tanya wanita berbadan berisi yang sudah tak enak hati.

"Ah engga, aku mau lanjut nonton. Mbak ikut?" Tanyanya kepada wanita itu.

Wanita itu tersenyum dan menggangguk.

"Ikut yok dek, nanti ajalah nonton lagi..." ajaknya.

"Mas setirin kita ya..." ajaknya pada suaminya.

"Kalian pergi berdua sajalah, nyetir sendiri aja..mas capek mau langsung tidur."jawabnya lalu berlalu masuk kekamar.

Wanita itu bingung, rasanya gak mungkin meninggalkan mereka berduaan malam-malam dirumah mereka. Karena biasanya, kemanapun Wanita itu dan temannya yang berbadan berisi itu akan pergi. Wanita satu lagi juga akan ikut, karena katanya segan dan gak enak berduaan dengan suami temannya itu.

Saya : aku gak enak ninggal mereka berdua
Melati : harus pergi kita mbak, biar kamu tahu apa yang harus kamu tahu.
Saya : yaudah panggil aku kekamar ya.

Cuma 10 menit. 

"Maaf mbak, aku cuma gak mau dibilang fitnah. Tapi biar kamu lihat sendiri apa yang aku lihat empat hari belakangan ini. Sebelum kamu pulang, dan selama kamu kerja.." ucap wanita itu sambil menunduk. Air matanya berhamburan.

"Mobilnya parkir disini aja. Bilang ada yang ketinggalan jd kita males muter lagi." Perintah teman wanitanya itu.

Pintu rumah masih terbuka, tak menimbulkan prasangka apapun dikepala wanita itu.

"Eh..loh..." ucapnya kaget dan seketika terpatung didepan pintu.
"Astagfirullah..." ucap temannya lebih kaget.

Wanita itu refleks terduduk. Lelakinya masih telungkup menghadap ke laptop.

"Ka... ka... lian...." ucap wanita itu gagap.

"JANGAN BERLEBIHAN GOBLOK!! KAMI CUMA NONTON!!" Yang lalu tangannya membentuk gerakan refleks menutup layar laptopnya.

Wanita disebelah wanita itu masuk, dan langsung menyambar laptop itu. Membukanya dan berteriak kencang sekali.

"ASTAGFIRULLAH!!!! BARU SEPULUH MENIT!!! ALLAHU AKBAR!!!!" teriak wanita disebelahnya. Yang lalu menampar teman wanita nya yang masih duduk kebingungan.

Wanita itu merampas laptop itu. Menangis segugukan. Dan terduduk lemas.

Temannya mengambilkannya air mineral, karena tahu air mineral adalah penenang dari setiap masalah yang dihadapi wanita itu.

Wanita itu menangis sejadi-jadinya.

Hatinya hancur berantakan.

Dia menarik nafas dalam sekali.

Mengangkat wajahnya dan menatap orang yang sangat ia cintai, dan teman barunya.

"Tolong jelaskan. Tolong jelaskan!" Ucapnya tegas namun tenang. Hebat sekali, tidak emosi. Apa lagi marah-marah, seperti refleks temannya yang menampar dan lalu memaki.

"DIA YANG MENGAJAKKU, DIA YANG MENGGODAKU" Teriak suaminya membela diri.

Wanita itu menunduk, tak mau percaya siapapun kali itu.

"JELASKAN BAJINGAAN!!!" teriak temannya pada teman sekamarnya yang berbuat memalukan itu.

"Pim...pinan bilang, disini ada laki-laki yang sudah beristri namun butuh belaian ka...rena.. istrinya tidak punya waktu dan... sibuk... jarang pulang... dan jelek..."

Wanita itu menundukkan kepalanya dalam sekali.

"Astagfirullah... DASAR BODOH!!!" komentar temannya yang lalu menengan setelah diberi perintah tenang oleh wanita yang masih bungkam itu.

"waa..kk...tu... aaa..kuu... per...tama... kal...iii... ke..teee..mmuu... masss... , mas... raa..maaahhh... see..kaa...li... , mba..kkk be...naa...rraan... gaa..kk.. aaad...aaa... di...rumm...aah... . Mbaa..k.. pu..laa...ng... mal..aamm... see..kaa...li.." wanita itu terbata mukanya pucat sekali.

"Tolong ambilkan minum. Kasihan..." pinta wanita itu pada wanita yang kini berwajah merah, ingin memangsa bahkan membutuh.

Wanita itu minum, banyak sekali. Dia menangis. Lalu mulai bicara lagi.

"Aku ketemu mbak, lagi capek banget... mba cantik banget.. shalihah banget... tapi kampungan gayanya.. terlalu muslimah..." ia terisak.

Wanita disebelah wanita ituseperti mengerang, emosi sekali. Lelakinya menundukkan diri. Merasa terhakimi.

"Aku fikir emang benar, suami mbak udah bosen banget. Jarang ketemu, mukanya lelah. Yaa, beda bengat sama aku dan dia. Kita glowing setiap waktu. Secara istri asisten ptpn. Masak buluk... tapi itu fikirku malam itu... tapi semuanya dari malam itu..."jelasnya pasih, sambil menghapus air matanya dan lalu minum lagi.

"Paginya, aku lihat mas baru rampung sarapan. Tapi mbak udah pergi. Aku fikir mas pasti buat sendiri... jadi aku duduk dimeja makan, nemeni mas... mas oke aja, mas ramah. Aku fikir mas emang gak punya teman ngobrol." Jelasnya lebih tenang.

"siangnya, aku dapat izin pulang duluan. Kata bos, mas sering pulang siang-siang untuk istirahat dirumah. Aku lihat, mas abis nyuci bekal. Aku fikir mas buat sendiri sebelum berangkat.... lalu mas pamit mau makan siang diluar... aku fikir makan siang sendiri...."

Dia menarik nafas.

"malamnya, mas pulang bareng mbak. tapi mas gak bahagia. aku fikir emang kalian udah renggang, jadi aku sms mas. Aku bilang, besok siang aku mau ngobrol sambil makan siang. Mas bilang gakbisa, mas ada janji."

"Setelah makan siang besoknya, aku disuruh mas ke Mbak Nia. Katanya dia udah rampung makan siangnya. Aku izin sama Bos, dan dibawain kue buatan Istrinya katanya disuruh kasih ke Mas. Abis Mas makan kue itu mas peduli banget sama aku, tapi beda kalau dirumah..."

"Besok malamnya, mbak lembur karena sabtu mbak gak masuk, katanya Mbak sabtu-ahad gak ada kelas disekolah manapun. Jadi Familytime. Malamnya aku ngajak mas ngobrol, aku bilang aku bisa berpura-pura kalau ada mbak. Jadi mas santai aja. Lagian mbak gak akan curiga..."

"Rupanya mbak gak pulang.... kami nonton film animasi yang kami ceritain tadi..."

Dia menangis menjadi. Lama sekali..

"Lalu aku di sms bos, ditantang goda dan ajak mas nonton film itu... kata bos sebagai bukti suruh rekam juga di laptop kami sambil nonton... pas sekali kalian mau pergi kekota..."

Wanita itu menunduk, terduduk lemas.

"Aku khilaf dek... dia pakai celana sependek itu. Ya aku raba-raba. Filmnya mendukung... dia duluan yang cium-cium aku.." jelas lelakinya. Khawatir sekali.

"Aku yang nafsu mbak, aku yang penasaran... aku yang gak tau terimakasih sama baiknya mbak..."wanita itu menangis.

Temannya menyeretnya kekamar mandi. Mengguyurnya pakai air yang sedingin es malam itu. Jangankan malam hari, siang butapun air didaerah mereka dingin sekali. Maklum daerah pegunungan.

Wanita itu teriak-teriak. Meminta temannya menyudahi. Menarik gayungnya dan menolong wanita yang hampir mati kedinginan itu.

"UDAH MBAK BIARKAN AJAAA!!!DASAR MURAHAN!!!" wanita itu meronta-ronta.

Wanita itu menarik temannya, kekamarnya dan suaminya mengunci temannya itu dari luar.

Suaminya masih terpatung diruang tamu. Tanpa berkata apapun.

Wanita itu lari kekamar teman-temannya. Mengambilkan handuk, dan menuntun wanita yang berbuat menyakitkan itu kekamar mereka. Membantu mengeringkan tubuhnya. Mengolesi minyak angin, memakaikan baju yang hangat.

Wanita itu membuka pintu kamarnya, mengajak temannya bicara dengan air mineral ditangannya.

"Kau  harus tenang!bantu aku menyelesaikan masalah ini. Tolong tenang! Tau kau kunci lagi?" Pintanya sangat tegas namun tenang.

Wanita itu meneguk air mineral yang ia berikan. Dan lalu memeluknya dalam sekali, dalam tangis sengsegukan.

"Mbak memang baik sekali!!! Baru kali ini aku temui wanita seperti mbak... aku mau dikunci saja lagi. Biar bisa belajar banyak dikamar mbak ini!!!!" Serunya meronta-ronta bak anak kecil.

"Tidak, kita harus bicara berempat. Setelah itu, kau kuizinkan masuk kekamarku lagi. Silahkan cari pelajaran dari sana. Tapi sekarang, tolong dengarkan aku dulu!!!" Ucapnya tegas dewasa sekali.

Mereka duduk melingkar dimeja makan. Hening sekali. Berbeda dari malam-malam sebelumnya. Percakapan kedua temannya, komentar suaminya. Hanya dia yang tenang, karena memang tak suka menimpali.

"Jadi gini, aku bersyukur sekali kalian mau jujur. Gak ada yang ditutup-tutupin. Dek Mawar, maaf sekali. Yang kamu lihat gak benar dek. Aku jelaskan. Mohon didengarkan dahulu Melati..."

"Aku sama suamiku, jauh dari kata baik. Malam itu aku sudah minta maaf karena gak bisa menyambut kalian lebih awal. Aku baru sampai di sini, aku ada dinas diluar kota. Jauh sekali dari kampung ini. Dikota sebelah yang lebih terpencil. Ada anak yang krisis jiwanya. Aku fikir kalian faham. Tapi ternyata gak seutuhnya. Aku selalu bangun pagi sekali untuk mempersiapkan rumah dan semuanya... termasuk sarapan dan cemilan duhah suamiku... lalu setelah susunya habis. Aku pamit, karena jam kerjaku lebih awal dari pada kalian..."

Melati mengangguk-angguk. tentu dia tahu, dia juga slalu bangun awal sekali, shalat sunnah, tilawah, sampai menunggu waktu subuh. Berbeda dengan Mawar yang hanya bangun satu jam sebelum jam bekerja. Yang berarti wanita itu sudah harus tiba dikantornya.

"Setiap hari, kami selalu makan siang diluar. Dikampung sini, dikota, semua kami jelajahin. Lalu dia menemaniku dinas ditempat lain hingga malam hari. Belakangan ini memang tidak. Karena suamiku kurang enak badan, dia habis kecelakaan. Ada masalah dipinggangnya. Itu kenapa wajahnya kurang cerah...."

"Aku gak habis fikir, kenapa bisa ada kesimpulan seperti itu. Tapi kami sangat sedang baik-baik saja." Jelas wanita itu tenang. Perlahan namun pasti.

"Soal makanan itu, suamiku tahu itu dari istri bos kalian. Karena sering kali dia menerima kue sejenis yang tidak pernah dia makan. Karena kami tahu kue itu ada unsur aneh-anehnya. Suamiku juga bilang kamu menemuinya setelah kami makan siang. Hingga membahas anime dan seterusnya. Tapi aku gak habis fikir kalian bisa berbuat sejauh itu...."

Air mata wanita itu akhirnya jatuh. Ia mengigit bibirnya. Mungkin, hatinya luka sekali.

"Begini saja..." suaranya melemah, terkalahkan suara tangisan yang ia tahan.

Ia meneguk airnya, meredakan emosi yang bergejolak.

"Lalu ini bagaimana kalian?" Tanyanya.

"Aku sebenarnya punya pacar mbak dikota kita. Aku cuma main-main aja.... tapi aku betulan suka itu... sama mas. Tapi aku salah aku sadar. Aku minta maaf. Aku gapapa. Lagian aku uda hubungan jauh dengan pacarku. Kami akan menikah bulan depan..."jawab wanita itu dalam tunduknya.

"Nah, begini saja. Aku kasihan sama kamu, yang bakal dikerjai sama si Bos kalian itu. Kami akan cari kontrakan. tapi mohon kalian rahasiakan. Ini demi kebaikan kita semua. Bos kalian itu gak suka sama aku, karena aku dijalur yang berbeda sama istrinya. Karena, aku sama istrinya ada masalah pribadi. Lalu si Bos kalian ikut-ikutan.. ah, gakusalah dibahas... yang penting masalah kita dulu selesai..." wanita itu memberi penyelesaian.

"Gak mbak, sebenarnya Melati udah ketemu kontrakan untuk Melati dan Mawar di dekan kantor. Uda Melati panjar semalam, karen Melati tahu bakal seperti ini masalahnya.... dan melati uda ngobrol sama Bendahara kantor. Katanya nanti di rembes setelah kami pindah.  alhamdulillah ketahuan lebih cepat dari yang Melati duga... terimakasih ya mbak..." jawab Melati, wanita berbadan agak berisi membantu mencari penyelesaian.

"Jadi begini prinsipnya, yang hanya kita lihat itu mungkin hanya 0.01% benarnya. Dan yang hanya kita dengar itupun demikian.  Maka, allah ciptakan mata dan telinga sejajar. Agar digunakan bersamaan. Jangan percaya jika hanya salah satu yang mengalami.... barengilah dengan slalu berprasangka baik, atau belajarlah bertanya tanpa menghakimi.." 

Mereka semua mengangguk. Wanita berbadan kecil itu memeluk wanita itu. Mengucap maaf dan bersyukur telah mengenalnya. dan berjanji, akan selalu belajar dan bertanya padanya.

Komentar

  1. Wahh. Kok emosi ya kak bacanya.. 😁 membayangkan berada di posisi isterinya

    BalasHapus
  2. Ini kisah nyata atau fiktif sih
    Hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerasa nyata ya? Disadur dari cerita-cerita dan kejadian-kejadian orang disekitar mba. Tp dikemas lbh drama ajaa,hehe

      Hapus
  3. Waduuuh, jantung ku berdegup baca ini mbaaa

    BalasHapus
  4. aih mak, awak sambil baca sambil lupa tarik nafas. Wkwkwk
    akhirnya happy ending.
    sini kutokokkan dulu kepala suaminya..

    BalasHapus
  5. Memanglah ara ni,, pande kali menguras emosi pembaca. Terutama wanita yang udah bersuami, wkwk.. Bikin novel yuk ra,, atau antologi aja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoook kak. Semangat kali ara klo diajak duet ini. Yok kak yokk. ❤❤

      Hapus
  6. oih ... ada lanjutannyaaaaa. akhirnya kusadari, ternyata ini cerita bersambung yak :P

    menunggu lanjutannya lagi kaaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapsiap berdebar kencaangg kak, jangan lupa napasss hihi><

      Hapus
  7. Aih dek...paten kalilah istrinya itu ya...nggak ada satu peralatan dapurpun yang melayang ke muka suaminya...padahal baru 10 menit ditinggal...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kita, uda pecah semuanya yakan kak😂😂

      Hapus
  8. Awak malah terpikir sewa pembunuh bayaran kek di sinetron kwkwkwkwkkwkw


    Dont try this at home 😏

    BalasHapus
  9. sepertinya ini kisah kalau dibukukan bakal banyak yang beli hehhe. bagus kak ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah, semoga ada kesempatan mihihi. Minta doanya ya kak^^

      Hapus
  10. Tapi emang sangat gak baik membawa wanita/laki lain serumah dengan kita dan suami (kecuali ortu/mertua) sekalipun itu adik atau kakak ipar karena mereka bukan mahram kita.

    BalasHapus
  11. Suka quotes akhirnya. Memang kebanyakan dari kita cuman menggunakan satu Indra.

    BalasHapus
  12. Kamu berhasil mencabik emosiku dek, geram kali rasanya kalau dengar cerita perselingkuhan, good job ya sama ceritanya :)

    BalasHapus
  13. Suka dengan quote terakhir. Memang benar adanya. Kita tidak boleh menilai seseorang dari satu indera saja.
    Apa yang terlihat belum tentu benar, dan terdengar belum tentu benar.

    BalasHapus
  14. Suka dengan quote nya intinya kita hrs menggunakan penglihatan dan pendengaran secara seimbang yaa

    BalasHapus
  15. Alur ceritanya bagus, saya yang membaca dibawa dalam emosi. Suka gaya menulisnya

    BalasHapus
  16. Buat buku antologi yuk kak... Bagus banget. Menguras emosi para pembaca.

    BalasHapus
  17. Pelajarannya jangan pernah kasi peluang sekecil apapun, coba dari awal tegas gak usah masukkan perempuan lain, gak ada kejadian.
    Ra, serem ihh kalau baca ginian, suka takut kalau kejadian, naudzubillah hiii ngeriii

    BalasHapus
  18. Ini sakit kaliiii bacanya hiks.. kalau ada kejadian nyata gitu, kayaknya mending keluar dr kantor itu drpd dijebak trs sama bosnya haha. Maaf jd baper saya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelajaran dari si Wanita Baik Itu. #1

"Wanita baik-baik. Tidak akan menyakiti wanita manapun, sekalipun wanita itu belum tentu baik."
 Jam menunjukkan pukul 03.00WIB. dan wanita yang kata suaminya lucu itu belum juga tertidur.

HPnya mulai lobet, dan sebagai pertanda kebosanan akan segera melandanya.

"Sayang, izin pinjem hp kamu ya. Mau main games." bisiknya pada lelakinya yang sudah tertidur pulas sejak pukul dua puluh dua malam tadi.

"yah, kok paswordnya diganti?" tanyanya lagi, sendiri. dan nampak kebingungan.

Dia menarik jari lelakinya yang masih tertidur, dan tak sadarkan diri. Menggunakan aplikasi hebat dari smartphone hari ini.

Sebuah pesan masuk membuat matanya semakin segar, dan hatinya berdegup lebih kencang.

Dia membukanya, dan membacanya. Air matanya berhamburan.

Mawar : Kamu lagi apa?
Saya : Kamu? Mawar : Lah, kamu ditanya malah tanya lagi. Lucu ya,hehe Saya : Ada apa War?  Mawar : Gak boleh ya aku rindu?  Mawar : Istrimu belum tidur ya, Mas? 
Wanita baik itu sangat yakin Wanita y…

Pelajaran dari Si Perempuan Baik Itu #4

"Mau kemana Bu?" Sapa Kepala sekolah ditempat wanita baik itu mengajar.
"Oh, saya mau pulang Bu.." jawab wanita baik itu datar.

Ia agak berbeda akhir-akhir ini. Lebih banyak diam dan tak riang.

"Ibu tidak apa-apakan?" Tanya kepala sekolah sekali lagi.
Wanita itu hanya mengangguk dan pamit untuk pulang lebih dahulu.

Akhir-akhir ini, ntah mengapa perasaannya kurang enak. Tidurnya tidak cukup. Badannyan terasa lebih hangat dari biasanya.

Wanita itu tiba didepan rumahnya. Dan langsung menghampiri suaminya yang mungkin hari itu jam mengajarnya lebih sedikit sehingga dapat pulang kerumah terlebih dahulu.

"Kamu kenapa?" Tanya suaminya membuka keheningan diatas meja makan.

"Gapapa kok,hanya kurang enak badan." jawabnya datar sambil menyendokkan nasi untuk suaminya.

Meja makan lebih sepi dari biasanya, tidak ada cerita, tidak ada candaan. Benar-benar berbeda beberapa hari belakangan.

Wanita itu menyadarinya, malam haripun demikian.

Akhir-akhir …