Langsung ke konten utama

Pelajaran dari Si Perempuan Baik Itu #4

"Mau kemana Bu?" Sapa Kepala sekolah ditempat wanita baik itu mengajar.
"Oh, saya mau pulang Bu.." jawab wanita baik itu datar.

Ia agak berbeda akhir-akhir ini. Lebih banyak diam dan tak riang.

"Ibu tidak apa-apakan?" Tanya kepala sekolah sekali lagi.
Wanita itu hanya mengangguk dan pamit untuk pulang lebih dahulu.

Akhir-akhir ini, ntah mengapa perasaannya kurang enak. Tidurnya tidak cukup. Badannyan terasa lebih hangat dari biasanya.

Wanita itu tiba didepan rumahnya. Dan langsung menghampiri suaminya yang mungkin hari itu jam mengajarnya lebih sedikit sehingga dapat pulang kerumah terlebih dahulu.

"Kamu kenapa?" Tanya suaminya membuka keheningan diatas meja makan.

"Gapapa kok,hanya kurang enak badan." jawabnya datar sambil menyendokkan nasi untuk suaminya.

Meja makan lebih sepi dari biasanya, tidak ada cerita, tidak ada candaan. Benar-benar berbeda beberapa hari belakangan.

Wanita itu menyadarinya, malam haripun demikian.

Akhir-akhir ini, suaminya memang lebih banyak diam dan terkesan menghindar. Seperti ada yang disembunyikan. Berbeda dari biasanya. Dan hal itulah yang akhirnya membuat wanita itu memilih bungkam ditambah kondisi badannya yang kurang sehat.

Esok paginya, masih seperti pagi-pagi biasanya. Mereka pergi berangkat kerja bersama. Namun, suaminya bilang hari ini dia lagi tidak ada kelas. Jadi hanya akan pergi ketempat suaminya mengajar untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal kemarin.

Wanita itu kini telah memulai pelajaran, agak membosankan rasanya ketika guru favorit siswa-siswa menjadi lebih banyak diam dan melamun.

Anak-anak mengetahui ibu kepala sekolah telah berdiri didepan pintu dan telah mengetuk beberapa kali.

Namun, ia masih saja hanyut dalam lamunannya.

Ibu kepala sekolah memilih masuk dan berdiri cukup lama tanpa diperdulikan oleh wanita itu.

"Ibu..." panggil kepala sekolah membuyarkan lamunanan wanita yang kini pipinya basah oleh air mata.
"Boleh kita bicara sebentar?" pinta ibu kepala sekolah yang lalu berlalu menuju daun pintu.

"Saya gabisa jelasin sekarang, tapi sebaiknya ibu saya hantarkan pulang dan lihat langsung. Semoga ini bisa menjawab kebingungan sekaligus menyelesaikan masalah yang sedang Ibu hadapi." ucap ibu kepala sekolah tanpa basa-basi.


**

Pintu rumah itu tertutup, namun sepatu flat mengajar seorang guru ada tepat didepannya. Lampu kamar menyala, ada dua orang yang sedang bercanda, dan terdengarkan sangat menjijikkan sekali didalam kamarnya.

Air mata wanita itu berhamburan namun ia tetap tegar, dan memberi kode agar ibu kepala sekolah mengikutinya masuk lewat pintu belakang yang sangat besar kemungkinan suaminya dan ntah dengan siapa dia berada dikamar mereka tidak mengetahui kedatangan Ibu Kepala Sekolah dan Wanita itu.

Mereka sudah berada didalam rumah, berjalan tanpa bersuara.

Wanita itu, menyambar air minum dari ceret. Meneguknya banyak sekali, lalu menarik nafas legah dan terlihat jauh lebih tenang.

Mereka semakin dekat dengan pintu kamar, canda tawa mereka semakin jelas, bahkan pembicaraan mereka yang mengolok-oloknya semakin jelas.

"Nanti ku tinggalkan saja wanita itu." Kata pria itu.
"Trus kamu menikah denganku? Jadi kita bisa bebas begini setiap waktu... hihihihi.. aku suka sekali denganmu... aaaa gemaaasss" ucap wanita itu seolah sedang terbang kelangit ketujuh.

Wanita itu mengigit bibir bawahnya, malu sekali dengan Ibu Kepala Sekolah.

Ibu Kepala Sekolah memilih berdiri diam dipintu dapur yang mengarah keruang tamu, dia menangis.

Wanita itu justru tenang.

Tak diduga tak disangka 5tahun pernikahan akan kandas dengan orang ketiga. Rumah tangga yang harmonis dan nyaris tak bermasalah. Kini berada diambang kehancuran.

Wanita itu membuka pintu kamar, pintunya tidak dikunci. Tak berbunyi. Dua sejoli yang sedang bercumbu yang tak menyadari kehadirannya.

Ia diam mematung dan melihat punggung lelakinya yang kini sedang menunggangi wanita yang suaranya rasanya tak asing ditelinganya.

Lelaki itu melepaskan kemaluannya, ia klimaks dan menyudahi permainan mereka.

Betapa terkejutnya ia, melihat wanitanya menyaksikan perbuatannya dengan wanita yang ternyata sahabat wanita itu sendiri.

Wanita itu tersenyum, lalu duduk disudut tempat tidur. Menatap sahabatnya yang sedang melayang menikmati nikmatnya suaminya sekaligus memasang ekspresi terkejut dan membelalak. Sahabatnya itu terlihat lemas sekali.

Ia tak bisa berkata apa-apa. Meraba tempat tidur mencari-cari pakaiannya.

Wanita itu mengambilkannya, memberikannya, dan masih menatap sahabatnya dengan wajah pucatnya.

Suaminya mematung, tak tahu harus berbuat apa.

Wanita itu keluar dari kamarnya. Dikejar oleh suaminya.

Wanita itu diam, dia hanya terus berjalan menuju dapur. Mengambilkan segelas air minun. Mengantarkannya kembali pada sahabatnya yang kini terduduk lemas sekali.

"Silahkan selesaikan urusan kalian berdua, aku tunggu di Meja Makan." Ucapnya lalu meninggalkan mereka berdua dikamarnya.


Benar memang, sering kali Wanita tak mencari tahu. namun, Batinnya memberi tahu. Sering kali Wanita percaya. namun, percayanya tak dinilai. Katakanlah yang pahit, selagipun itu pahit dari pada memaksakan manis yang akhirnya jauh lebih pahit. 



Komentar


  1. 😥😣 gak tau kata² apa meng expresikan hati ini pas bacanya.., belum kutemukan ada wanita semacam itu dgn kisah yg sama..,
    Semoga Allah swt jaga kita dan suami😅( nantinya..😁) doaku buat Ustazah saja tuk saat ini,, dijauhkan dari hal² yg tak baik macam tu....,

    BalasHapus
  2. YaAllah, kak ini kok berat hati bacanya :((( pilu membiru

    BalasHapus
  3. Setiap baca cerita si wanita baik hati kok aku selalu berhenti bernafas ya. .

    Ahh, ngilu ngebayangin di posisi dia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. walaah:(
      sengilu ngetik dan membayangkannya kaaa:(

      Hapus
  4. Naluri wanita itu kuat, sebaik-baiknya bangkai di simpan akan kebau juga. Nyesek bener ya disilingkuhin itu. Nauzubillah.. jauhkanlah kami dari hal tsb

    BalasHapus
  5. Hmmmm sepertinya kita biarkan saja mereka berdua, , kita simak di meja makan yaaa

    BalasHapus
  6. Apa pun rasanya ternaafkan kecuali wanita lain.
    Terlebih ketahuan ketika berbuat dosa.
    Yang halal saja menyakitkan, apalagi yg tak halal

    Naudzubillahi min dzalik

    BalasHapus
  7. Ini ygnulis laki-laki ya tp seakan paham sekali isi hati perempuan. Mantoel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini perempuan yang nulis kak Mia.. hehe..

      Hapus
  8. Aduh ra.. buat buku aja deh. Biar kami nggak gantung2 bacanya, wkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelajaran dari si Wanita Baik Itu. #1

"Wanita baik-baik. Tidak akan menyakiti wanita manapun, sekalipun wanita itu belum tentu baik."
 Jam menunjukkan pukul 03.00WIB. dan wanita yang kata suaminya lucu itu belum juga tertidur.

HPnya mulai lobet, dan sebagai pertanda kebosanan akan segera melandanya.

"Sayang, izin pinjem hp kamu ya. Mau main games." bisiknya pada lelakinya yang sudah tertidur pulas sejak pukul dua puluh dua malam tadi.

"yah, kok paswordnya diganti?" tanyanya lagi, sendiri. dan nampak kebingungan.

Dia menarik jari lelakinya yang masih tertidur, dan tak sadarkan diri. Menggunakan aplikasi hebat dari smartphone hari ini.

Sebuah pesan masuk membuat matanya semakin segar, dan hatinya berdegup lebih kencang.

Dia membukanya, dan membacanya. Air matanya berhamburan.

Mawar : Kamu lagi apa?
Saya : Kamu? Mawar : Lah, kamu ditanya malah tanya lagi. Lucu ya,hehe Saya : Ada apa War?  Mawar : Gak boleh ya aku rindu?  Mawar : Istrimu belum tidur ya, Mas? 
Wanita baik itu sangat yakin Wanita y…

Pelajaran dari Si Wanita Baik Itu #3

"Sayang,pimpinan memanggilku." baru saja tiba dirumah dinas mereka, lelaki yang sedang menggenggam gelas teh di tangannya membuka perbincangan.

"Lalu?" Wanitanya duduk disebelahnya, yang lalu menunduk dan membukakan kaus kakinya.

"Mulai besok, kita akan serumah dengan dua orang wanita dari kota. Bagaimana menurut kamu?" Tanya lelaki itu meminta pendapat pada wanitanya.

Wanitanya hening, tampaknya sedang berfikir. Berjalan kedapur dan memegang secangkir air mineral ditangannya.

Ia duduk kembali, meneguknya hingga setengah dan meletakkannya.

Menggenggam tangan lelakinya dan mencoba angkat bicara.

"Aku terserah kamu, tapi apa gak akan jadi masalah? Kita tinggal di lingkungan masih perdesaan. Apa gak akan jadi gosip?" jawab wanitanya sangat berhati-hati.

"Letakkan saja mereka dikamar belakang, aku gak akan ketoilet kecuali kamu temanin, dan gak akan pulang sebelum kamu pulang..." jelas pria itu mencoba menjawab kekhawatiran istrinya.

Sepeka…